Prediksi Buku Anak Krakatau Bisa Picu Tsunami Selat Sunda
BeritakuDotCom, Selat Sunda - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Indonesia, mengatakan tsunami Selat Sunda Sabtu lalu yang menewaskan sedikitnya 373 orang, disebabkan oleh tanah longsor terkait aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Mereka mengatakan tanah longsor kemungkinan terjadi di lereng curam gunung berapi Anak Krakatau, yang kemudian memicu tsunami.
Menurut Gegar Prasetya, salah satu pendiri Pusat Penelitian Tsunami Indonesia, tsunami Selat Sunda kemungkinan disebabkan oleh runtuhnya porsi tanah (flank collapse) di lereng gunung Anak Krakatau, demikian seperti dikutip dari ABC.net.au, Selasa (25/12).
baca juga : Himbau Warga Pakai masker, Abu Vulkanik Anak Krakatau Hujani Cilegon & Serang
Flank collapse itu mungkin saja disebabkan oleh sebuah letusan Anak Krakatau, yang kemudian memicu longsor porsi tanah bagian atas gunung atau porsi tanah di bawah lautan. Material yang jatuh ke laut kemudian mampu menghasilkan gelombang tsunami.
"Ini menyebabkan tanah longsor bawah laut dan akhirnya menyebabkan tsunami," kata Dwikorita Karnawati, kepala BMKG seperti dikutip dari The Guardian.
Gambar yang diambil oleh satelit Sentinel-1 Badan Antariksa Eropa (ESA) menunjukkan sebagian besar sisi selatan gunung Anak Krakatau telah longsor ke laut, kata para ilmuwan.
Kendati demikian, hipotesis bahaya flank collapse Anak Krakatau yang mampu menyebabkan tsunami ternyata telah 'diprediksi' oleh sebuah buku ilmiah yang dipublikasikan pada 2012 silam --kurang-lebih enam tahun pra-tsunami Selat Sunda.
baca juga : Pihak Kepolisian soal Penghentian Konser Sheila on 7
Buku itu berjudul "Natural Hazards in the Asia–Pacific Region: Recent Advances and Emerging Concepts" yang ditulis oleh JP Terry dan J Goff, dipublikasikan oleh The Geological Society of London.
Mengutip abstrak bab yang berjudul "Tsunami hazard related to a flank collapse of Anak Krakatau Volcano, Sunda Strait, Indonesia" yang ditulis oleh T. Giachetti, R. Paris, K. Kelfoun, dan B. Ontowirjo, para peneliti telah 'mewanti-wanti' mengenai bahaya longsoran Anak Krakatau yang berpotensi memicu tsunami.
Berikut petikan abstrak bab buku tersebut:
Pemodelan numerik dari destabilisasi parsial yang cepat dari Anak Krakatau (Indonesia) dilakukan untuk menyelidiki tsunami yang dipicu oleh peristiwa ini.
Anak Krakatau, yang sebagian besar dibangun di dinding timur laut curam dari kaldera letusan 1883 Krakatau, berstatus aktif di sisi barat daya-nya (pasca-1883) yang membuat gunung itu tidak stabil.
Keruntuhan lereng (flank collapse) hipotetis 0,280 km3 yang diarahkan ke barat daya akan memicu gelombang awal setinggi 43 m yang akan mencapai pulau Sertung, Panjang dan Rakata dalam waktu kurang dari 1 menit, dengan amplitudo dari 15 hingga 30 m.
Ombak ini akan berpotensi berbahaya bagi banyak kapal wisata kecil yang bersirkulasi di, dan di sekitar, Kepulauan Krakatau.
Gelombang kemudian akan merambat secara radial dari daerah tumbukan dan melintasi Selat Sunda, dengan kecepatan rata-rata 80-110 km j − 1.
Tsunami akan mencapai kota-kota yang terletak di pantai barat Jawa (misalnya: Merak, Anyer dan Carita). 35–45 menit setelah mulainya keruntuhan, dengan amplitudo maksimum dari 1,5 m (Merak dan Panimbang) hingga 3,4 m (Labuhan).
Karena banyak infrastruktur industri dan wisata terletak dekat dengan laut dan pada ketinggian kurang dari 10 m, gelombang ini menghadirkan risiko yang tidak dapat diabaikan.
Karena banyak refleksi di dalam Kepulauan Krakatau, ombak bahkan akan mempengaruhi Bandar Lampung (Sumatra, sekitar 900.000 jiwa) setelah lebih dari 1 jam, dengan amplitudo maksimum 0,3 m.
Gelombang yang dihasilkan akan jauh lebih kecil daripada yang terjadi selama letusan Krakatau 1883 (sekitar 15 m).
baca juga : Ini Dia Mobil Online Untuk Libur Akhir Tahun
Deteksi cepat keruntuhan (flank collapse) oleh observatorium gunung berapi, bersama dengan sistem peringatan yang efisien di pantai, mungkin akan mencegah peristiwa hipotetis ini menjadi mematikan.Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan Indonesia tidak memiliki sistem peringatan dini untuk tanah longsor atau letusan gunung berapi. "Sistem peringatan dini saat ini adalah untuk aktivitas gempa bumi," tulisnya di Twitter.
"Indonesia harus membangun sistem peringatan dini untuk tsunami yang ditimbulkan oleh tanah longsor bawah laut dan letusan gunung berapi. Tanah longsor memicu tsunami Maumere 1992 dan tsunami Palu 2018."
baca juga : Masih di Kandungan, Bayi Momo Geisha Sudah Dapat Hadiah Mewah di Acara 7 Bulanan, Ini Isinya
Dia juga mengatakan jaringan pelampung (buoy) tsunami Indonesia belum beroperasi sejak 2012. "Vandalisme, anggaran terbatas, dan kerusakan teknis berarti tidak ada pelampung tsunami saat ini," kata Sutopo. "Mereka perlu dibangun kembali untuk memperkuat sistem peringatan dini tsunami Indonesia."


Leave a Comment