Maut di Balik Kokain Murni Bintang Ternama Steve Emmanuel

BeritakuDotCom, Jakarta - Artis menjadi pengguna narkoba bukan hal yang luar biasa. Namun, kejahatan yang dilakukan Steve Emmanuel tidaklah biasa untuk ukuran artis Indonesia.


Tak hanya jadi pengguna, seniman peran itu juga diduga menjadi penyelundup obat terlarang dari luar negeri. Tak main-main, 1 ons kokain yang dia bawa dari Belanda ternyata dari kualitas nomor satu.

Jika terbukti menyelundupkan barang haram itu, Steve Emmanuel terancam hukuman maksimal dalam KUHP: mati.

"Dia beli di Belanda, hampir kita pastikan itu jaringan internasional. Apalagi kokain ini pertama kali ada di Indonesia. Selama ini kokain yang kami temukan dicampur zat lain sehingga kadar enggak bagus. Yang ini masih murni," kata Kepala Satuan Reserse Narkoba Polres Jakarta Barat AKBP Erick Frendriz di Polres Jakarta Barat, Jumat (28/12/2018).

baca juga : Kehadiran Ronaldo Membuat Mandzukic Lebih Tajam

Fakta tersebut tidak disimpulkan polisi secara tiba-tiba. Sebelum ditangkap pada Jumat pekan lalu di Apartemen Kondominium Kintamani, Mampang, Jakarta Selatan, Steve sudah diintai aparat sejak tiga bulan sebelumnya. Kokain itu ditemukan polisi di sebuah kotak kecil parfum di lemari pakaian.

"Sejak tanggal 11 September kami dapat info bahwa ada penyelundupan kokain seberat 100 gram dari Belanda. Dia tak mengelak saat kami menemukannya," ujar Erick.

Selain itu, polisi juga meyakini Steve Emmanuel tidak bekerja sendirian, saking sulitnya untuk mendapatkan kokain kualitas murni. Alasan itu pula yang membuat polisi memastikan, Steve sudah masuk ke dalam jaringan narkoba internasional.

"Tidak mungkin dia sendirian, pasti awalnya dari teman, temannya itu siapa, itu yang sedang kita dalami. Penyidik sedang bekerja. Kita tanya pun masih berubah-ubah (jawabannya)," jelas Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono di Markas Polda Metro Jaya, Jumat (28/12/2018).

baca juga : Enam Unit Rumah di Medan Deli Terbakar

Lewat jaringan Interpol, polisi kini berupaya memburu pemasok kokain untuk Steve Emmanuel hingga ke Negeri Belanda.

Badan Narkotika Nasional (BNN) pun sepakat dengan kesimpulan aparat kepolisian, bahwa temuan dari penangkapan Steve harus diwaspadai lantaran kokain sulit ditemukan di Indonesia.

"Pada pokoknya, peredaran kokain di Indonesia sangat jarang. Kalaupun ada temuannya, itu hanya sedikit," jelas Kepala Humas BNN Kombes Sulistiandriatmoko kepada Liputan6.com, Jumat (28/12/2018).

baca juga : Aksi Sosial Pulihkan Pasca Tsunami Selat Sunda

Dia menjelaskan, seperti halnya makanan, pengguna narkoba juga selektif dalam memilih obat yang akan dia konsumsi. Kokain, misalnya, bersifat halusinogen karena terbuat dari bahan alami. Sangat berbeda dengan amphetamin yang bertipe stimulan seperti sabu dan ekstasi, yang bahan bakunya adalah bahan kimia.

"Orang Indonesia biasanya mengonsumsi narkoba jenis stimulan, jadi suka sintetik. Biasanya, kalau sudah memakai narkotika yang alami, tidak suka sintetik. Begitu pun sebaliknya," ujar Sulis.

Karena itu, lanjut dia, kalau dilihat dari selera, kokain lebih banyak disukai oleh orang Eropa dan Rusia. Apalagi, Indonesia memang tidak memproduksi narkoba jenis kokain.

"Produksi kokain hanya bisa ditemui di luar negeri, seperti di Kolombia, Afghanistan, Pakistan, dan negara Eropa lainnya," jelas Sulis.

Selain di Indonesia tak bisa didapatkan bahan baku kokain, produksi obat ini membutuhkan fasilitas yang relatif mahal untuk pengambilan zat adiktif dari tanamannya. Selain itu, prosesnya cukup panjang sehingga kecil kemungkinan diproduksi di Indonesia.

baca juga : Benarkah Messi Ingin Kembali Bekerja Sama dengan Guardiola?

"Saya tidak bisa menyebutkan waktu pasti produksi kokain sampai jadi. Yang pasti, prosesnya cukup panjang dan membutuhkan waktu yang lama," papar Sulis.

Alasan lainnya peredaran kokain sangat terbatas di Indonesia, karena segmen pasarnya cuma untuk orang yang punya duit berlebih. Kalau harga sabu atau ekstasi dianggap sudah mahal, maka harga kokain jauh dari isi dompet orang kebanyakan.

"Harga kokain bisa mencapai Rp 6-7 juta setiap gramnya. Jadi, yang biasa membeli adalah masyarakat yang punya duit," pungkas Sulis.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.